|
Di Dunia fana ini tidaka da yang abadi dan sempurna. Setumpuk rencana manusia kadangkala menjadi onggokan kegagalan belaka. Terkadang manusia bersumpah serapah baik kepada dirinya sendiri maupun kepada orang lain bahkan kepada Allahpun tanpa pernah mengintropeksi dirinya sendiri. Mereka yang memiliki sifat dan karakter seperti itu kebanyakan hanya melihat kepada satu sisi saja. pada umumnya meyikapi sebuah masalah dengan pandangan ke depan tanpa pernah menoleh ke kiri dan kanan apalagi ke arah belakang. Ketika mereka melihat peluang tanpa melihat tantangan. Padahal sebuah peluang dapat muncul beribu tantangan. Emas di seberang sungai ada di pelupuk mata, mereka tak pernah berpiki, bahwa untuk mendapatkan emas itu terlebih dahulu harus menaklukkan sang buaya yang ada di sungai itu.
Egonya untuk memiliki emas itu kian menjadi-jadi ketika dirinya sudah hampir mencapai bibir seberang sungai. "Hm...aku akan kaya raya" gumamnya dalam hati.Tak terpikir pada akhirnya ia akan mendapat rintangan besar yang menghadang ketika penghuni sungai itu mencabik kulit kakinya. Mereka minta tolong dan berteriak sekuat tenaga namun apa daya bubur semakin membubur emas tinggal emas bubur tinggal bubur. Celakanya kakinyapun hilang sebelah akibat egonya yang lebih ganas dari buaya. Ah, dari pada dilanjutkan ... lebih baik kita telusuri di bawah ini ...
Kau Lupa Dirimu Sendiri Dipojok ruang itu dirimu bersolek ria Sorot matamu lunturkan egoisnya kemilau Kunang-kunang tak berkutik karenamu Guci retak tertimpa embun neraka Lamunan meraba kian jauh Kau lupa dirimu sendiri Langkah dirimu gontai tak berarah Selendang bermanik menepis indahmu Kendali perahu tak bertuan lagi Bahtera terbelah air berduri Bukit hayalmu semakin melaju Kau lupa dirimu sendiri Untukmu buluh perindu dari jauh tertiup Dirimu tak rela menyapa ikhlas sedikitpun Betapa indahnya tembang sendu di hati Gaung itu dirimu biarkan tak bermakna Angkuhmu kian menggunung Kau lupa dirimu sendiri Biarkanlah dirimu di sana bergelimang jaya Tiang-tiang rumahmu dari batangan emas Atap-atap rumahmu dari bukit permata Namun jiwa dalam dirimu terbelenggu karat Waris leluhurmu tak bertuah lagi Karena Kau lupa dirimu sendiri
By gitalara |